Sang Roh Gunung
Di abad ke-21, keberadaan seperti dirinya pada dasarnya adalah sebuah mesin waktu berjalan. Pencapaiannya yang gemilang sudah sangat tersohor—mulai dari membimbing pemimpin spiritual bangsa, hingga mengirim seorang Khan dari negeri stepa yang lahir di era yang salah kembali ke zaman yang seharusnya, dan sebagainya.
Jadi, ketika Sang Roh Gunung muncul di hadapanku dan berbicara tentang reinkarnasi ke masa lalu, aku mampu mengajukan pertanyaan dengan tenang tanpa rasa panik sedikit pun.
"Bisakah ke luar negeri?"
"Luar negeri? Hmm... tempat-tempat di luar yurisdiksiku agak sulit."
Sang Roh Gunung berbicara seolah-olah itu hal yang mustahil, tapi aku yakin 100% bahwa kata-katanya itu hanya hiperbola.
Bagaimana mungkin masuk akal jika roh yang mengaku kesulitan itu adalah sosok yang menyebabkan insiden besar yang tidak hanya mengubah sejarah Semenanjung Korea, tapi juga seluruh dunia? Tentu saja, itu bukan sesuatu yang diciptakan Sang Roh Gunung sendiri—itu adalah badai besar yang disebabkan oleh kepakan sayap kupu-kupu yang ia lepaskan; peristiwa kecil namun signifikan dengan mengirim seseorang dari masa depan ke masa lalu. Namun bukankah pada akhirnya, Sang Roh Gunung sendiri yang menjadi titik awalnya?
"Baiklah. Mari kita dengar dulu."
Lihat, kan?
Merasa jemawa karena tebakanku benar, aku berbicara dengan penuh percaya diri.
"Aku ingin hidup sebagai Zhang Lan."
Mengapa harus disembunyikan? Aku adalah seorang Bonapartis. Seorang sarjana sejarah Barat yang memuja Napoleon Bonaparte, sang kaisar yang lahir dari Revolusi Prancis. Itulah diriku.
Bukannya aku tidak pernah terpikir untuk menjadi Napoleon sendiri, tetapi keinginan untuk memperhatikan objek kekaguman dan kerinduanku dari jarak dekat jauh lebih kuat. Dalam hal itu, orang yang paling cocok—seseorang yang bisa berdiri bahu-membahu dengan Napoleon sebagai orang kepercayaan terdekatnya—hanya ada dua.
Joachim Murat dan Zhang Lan yang kusebutkan tadi. Hanya mereka berdua yang bisa menyapa Napoleon secara informal. Tidak ada yang lebih cocok daripada mereka.
Di antara keduanya, Joachim Murat memberiku rasa enggan tertentu. Aku lebih ke tipe otak daripada otot, dan Joachim memiliki kesan yang agak kasar, bukan? Meskipun kecakapan tempur untuk merjang maju dengan berani dan menghancurkan segalanya sangat menggoda, Zhang Lan, yang dijuluki Achilles-nya Grande Armée, terasa lebih menarik. Bagi seseorang yang lahir dari keluarga miskin sepertiku, kisah hidup Zhang Lan adalah objek imersi yang mendalam.
Mungkin karena merasakan ketulusanku, Sang Roh Gunung merenung sejenak sebelum mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu. Itu cukup dekat, jadi seharusnya bisa berhasil entah bagaimana. Tapi sungguh, kau ini orang yang sangat aneh."
Apa? Apakah aneh bagi orang Korea untuk pergi ke Prancis? Prancis, terutama periode revolusi, adalah latar yang cukup umum dalam novel-novel sejarah alternatif.
Lagipula, selama dia setuju untuk mengirimku, itulah yang terpenting.
Namun, seharusnya aku mendengarkan lebih teliti dan saksama terhadap apa yang dikatakan Sang Roh Gunung pada saat itu.
Dalam kegembiraanku meninggalkan "Hell Joseon" yang brutal—di mana sarjana humaniora tidak bisa bertahan hidup—dan pergi ke era revolusi yang hanya aku fantasikan, aku tidak seharusnya membiarkan kata-katanya berlalu begitu saja.
Tapi saat aku menyadari ini dengan terlambat, semuanya sudah berakhir.
§
Aku menatap sebuah cermin perunggu.
Bukan cermin kaca, melainkan cermin perunggu.
Bukankah itu aneh? Menatap cermin perunggu alih-alih cermin kaca di Prancis akhir abad ke-18?
Tapi ada sesuatu yang bahkan lebih aneh lagi.
Itu adalah penampilanku yang terpantul di cermin perunggu tersebut.
Sederhananya, aku yang terpantul di cermin adalah seorang 'gadis'.
Dan bukan sembarang gadis, melainkan gadis cantik yang layak mendapatkan berbagai kata pujian untuk kecantikannya.
Rambut hitam dengan kilau halus mengalir lembut bagaikan benang sutra. Rambut itu, dengan tekstur yang lebih baik daripada apa pun yang pernah kulihat di iklan di kehidupan sebelumnya, cukup panjang hingga melewati punggung sampai ke pinggang. Tekstur rambut yang membuat ketagihan itu membuatku secara tidak sadar terus menyentuhnya.
Fitur wajah gadis itu tersusun apik, membentuk harmoni yang fantastis bagaikan patung yang dipahat dengan hati-hati oleh seorang maestro. Meskipun masih memiliki sedikit lemak bayi yang membuat wajahnya bulat, mata kucingnya yang mencuat ke atas membuatnya terlihat angkuh.
Bulu mata yang panjang dan lebat, hidung imut yang mancung lurus, dan di bawahnya, bibir merah muda yang mengkilap. Dan yang melengkapi kecantikan ini, matanya yang dalam dan jernih menyimpan cahaya cemerlang seperti amestika. Dengan kedalaman yang tenang seperti langit senja, mata itu menawan perhatian seolah-olah memancarkan sihir.
Meskipun masih muda, penampilan gadis itu sudah memamerkan kecantikan sedemikian rupa sehingga ungkapan "wajah bak bunga dan pembawaan bak bulan" tidaklah berlebihan untuknya.
Ya. Seorang gadis cantik. Itulah yang terpantul di cermin yang kuhadapi.
Tapi Zhang Lan bukanlah seorang wanita, kan? Dia adalah pria jantan yang tetap tenang hingga saat kematiannya, mengatakan bahwa itu bukan hal yang istimewa. Jadi, apakah Sang Roh Gunung melanggar janjinya dan menipuku?
Yah, sebenarnya tidak juga.
Karena...
"Lan! Ayahmu sudah pulang."
Tubuh ini benar-benar Zhang Lan.
Hanya saja, masalahnya adalah...
Zhang Lan itu bukanlah Jean Lannes, melainkan Zhang Lan (張蘭).